Lagi-Lagi Golongan T
Saya pikir tulisan dosen tersebut di blognya menarik, ternyata diakhir, justru malah memancing perpecahan dan kecurigaan. Boleh mengkritik tentu saja, membeberkan fakta apalagi, tapi tentu harus melihat situasi dan tentu saja mengkonfirmasi hal-hal yang dituliskan tersebut benar-benar fakta atau tidak.
Bagi saya, definisi fakta adalah, bukan karena kamu mendengar dari si A, tapi benar-benar melihat langsung atau mendengar dari sumber primer atau benar-benar informasi yang terjaminlah sumbernya, bukan dari pihak yang memusuhi, tapi dari pihak netral. Misalnya, kalau mau mengetahui fakta-fakta tentang orang Demokrat, ya jangan tanya ke orang PDI-P, jelas akan bias dan kemungkinan akan diarahkan ke sisi tidak netral.
Semenjak tingkat satu, saya sudah digolongkan menjadi golongan T, dan berkali-kali disangka anak FSI. Padahal nyata-nyata, saya tidak pernah apply dan bergabung di FSI. Dengan beberapa teman tertentu, saya mengalami perlakuan berbeda, dan saya yakin bukan hanya saya saja, tapi teman-teman lain yang digolongkan menjadi golongan T. Hinaan pun pernah saya dapatkan, benar-benar yang sampai menohok. Acungan jari tengah pun pernah saya terima. Tapi yasudahlah, that’s life, kamu tidak akan mendapatkan semua yang kamu mau.
Jika ada konstalasi politik, golongan T pasti diangkat, pasti, apalagi kalau sudah yang negatif-negatif. Mereka memang akan memilih diam dan menjalankan apa yang terbaik menurut mereka, tidak dengan tindakan counter isu yang langsung.
Satu hal yang saya prinsipkan dalam diri saya bahwa, tidak semua hal harus saya ketahui dan tidak semua hal harus saya cari tahu. Kita punya tugas masing-masing dan memang dalam kehidupan ini harus ada hal-hal yang dirahasiakan, harus ada hal-hal dimana hanya orang-orang tertentu yang tahu, dan ada baiknya kadang kita tidak ikut campur, kerjakan saja apa yang menjadi kewajiban.
Kemudian akan muncul istilah Majelis Syuro. Apakah benar Majelis ini ada? Katanya sih mereka adalah pusat segala keputusan dan menentukan gerakan politik anak-anak dari golongan T. Saya cuma bisa tersenyum hampir tertawa mendengar asumsi tersebut. Tak usahlah ribet-ribet mikirin tentang ini, buat apa coba? Pun andaikata memang Majelis ini pusat segala keputusan, apakah kalian tahu bagaimana mekanisme pengambilan keputusannya? Jika tidak tahu, lebih baik tidak usaha bicara banyak-banyak dan berasumsi aneh-aneh, nanti malah jadi sok tahu dan menyebarkan hal-hal non faktual.
Lalu belum lagi katanya orang-orang golongan T pasti memajukan orang ke lembaga. Memang benar dimajukan? Yang penting bukan botol kecap kan yang dimajuin? Semua mahasiswa punya hak untuk maju, kenapa cuma golongan T yang kadang selalu dipojokan.
At the end, perbedaan, kelompok, itu pasti ada, sudah default, ga usah diribetin lagi. Golongan T sama saja kok dengan mahasiswa biasa, benar-benar sama saja, sama-sama mikirin politik, sama-sama mikirin kampus, sama-sama mikirin kuliah, sama pokoknya. Bagi beberapa orang, golongan T punya image khusus, apapun itu, tapi saya selalu berusaha memegang prinsip yang diajarkan seorang kawan:buka hati dan buka pikiran, kalau lo masih berpegang sama pikiran lo sendiri, lo ga akan pernah bisa open sama orang. Saya juga ingin mengutip apa kata bu Miranda: “kita harus dewasa dan mendengarkan dari dua sisi”.
Aha! Saya melihat, golongan T ini menyikapi opini mirip dengan bu Miranda, terlepas bu Miranda bersalah atau tidak.
Mari berkaca saja, kalau memang diri kita tidak suka dengan isu golongan, maka harusnya kita bisa open dengan siapa saja, mau mengajak siapa saja untuk berdiskusi atau merencanakan sesuatu, bukan dengan orang-orang yang, let say, tarbiyah sama tarbiyah aja, non tarbiyah sama non tarbiyah aja. Lagian kan hidup ini ga sesaklek, lo tarbiyah apa bukan, atau lo Islam apa bukan.
Jujur, agak menyesalkan tulisan dari bapak dosen itu, karena setahu saya, faktanya tidak begitu, tapi lebih baik teman-teman mahasiswa berfokus kembali pada isu -isu yang lebih penting daripada hanya sekedar isu golongan.
Kadang kita terlalu ribet mikirin orang lain dan menilai orang lain itu salah, tapi kita nggak, dan tarbiyah tidak mengajarkan saya seperti itu. Tarbiyah mengajarkan saya untuk profesional, jujur, amanah, komitmen, berani, dan semua itu adalah nilai-nilai Islam yang luar biasa.
Dan kadang harus dipisahkan, antara Tarbiyah secara golongan dan individu.
Afiliasi akan selalu ada, jadi santai aja
:D


