Dari Hamdalah Hingga Masya Allah
Ini beberapa hasil diskusi siang tadi di Musholla, tentang salah kaprah beberapa ungkapan yang sering kita pakai sehari-hari.
1. Hamdalah atau alhamdulillah
Arti: Segala puji bagi Allah
Contoh pemakaian umum:
- A: Alhamdulillah, akhirnya lulus juga S2!
- A: Gimana kabar keluarga? | B: Alhamdulillah
Seharusnya:
Seharusnya alhamdulillah, sebagai pujian kepada Allah, selain untuk menceritakan kabar baik juga bisa untuk kabar kurang baik.
Misalnya, A: Gimana kabar keluarga? | B: Iya nih, si kecil agak batuk dari kemarin. Alhamdulillah ..
2. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Arti: Sesungguhnya kita dari Allah dan kepada Allah kita akan kembali
Contoh pemakaian umum:
- A: Pak Arman meninggal lo tadi pagi | B: Inna lillahi … padahal masih muda ya …
Seharusnya:
Sesuai dengan Al-Baqarah 156, seharusnya ungkapan ini tidak saja diucapkan ketika ada orang meninggal, tapi kalau ditimpa musibah. Jadi, percakapan begini juga termasuk valid:
- A: Sudah denger kalau Pak Arman dirawat di RS? | B: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Bonus:
Bagaimana kalau ada non-Muslim yang meninggal, misal Steve Jobs, apakah boleh mengucapkannya? Jawabnya, Insya Allah boleh, karena ungkapan ini bukan doa, melainkan hanya pengingat.
3. Masya Allah
Arti: Allah maha berkehendak
Contoh pemakaian umum:
- A: Masya Allah, itu anak bandel banget ya ..
- A: Anaknya Pak Arman ketrabrak mobil lo! | B: Masya Allah!
Seharusnya:
Ini yang paling salah kaprah. Seharusnya Masya Allah diungkapkan untuk menunjukkan apresiasi, kesenangan, rasa syukur; dan bukan untuk respons kita atas kabar buruk (sumber: Wikipedia). Ungkapan ini sebagai pengingat bahwa kebaikan hanyalah dari Allah semata. Berikut beberapa contoh:
- A: Masya Allah, cantik sekali bayinya Pak Arman!
- A: Anaknya Pak Arman diterima di ITB lo | B: Masya Allah! Itu kabar terbaik hari ini.
Wallahu a’lam
Tokyo, 6 Oktober 2011
Radon Dhelika
-
pepshe reblogged this from duaenamjuli
-
duaenamjuli posted this